Pagerungan adalah pulau kecil pada gugusan kepulauan Sapeken. Pulau ini terletak di sebelah timur laut Pulau Madura. Dengan perjalanan menggunakan perahu bermesin diesel, pulau ini dapat ditempuh sekitar 8 jam dari Sumenep. Meskipun letaknya terpencil, Pulau Pagerungan menawarkan penorama tropis yang eksotik di tengah-tengah pergulatan warganya didalam menggantungkan hidupnya pada laut.
Meskipun Pulau Pagerungan ini masuk wilayah kabupaten Sumenep, namun kebudayaan setempat seperti rumah adat, cenderung berkiblat pada Suku Bajo yang terdapat di Sulawesi. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari pun mereka menggunakan Bahasa Bajo yang berbeda jauh dengan Bahasa Madura.
Pulau ini tidak terlalu luas. Membentang sekitar tiga kilometer. Sehingga kalau kita berjalan mengikuti garis terluar pantai maka waktu yang dapat ditempuh untuk mengelilingi pulau ini hanya sekitar satu jam perjalanan. Jumlah penduduknya pun kurang lebih seratus kepala keluarga. Fasilitas umum pulau ini sangat terbatas, hanya ada sebuah masjid, sebuah Sekolah Dasar Impres, beberapa kios pedagang dan sebuah klinik kesehatan yang temboknya sudah retak dan dipenuhi dengan lumut.
Anak-anak di pulau ini setelah lulus SD, untuk melanjutkan SMP mereka harus sekolah di pulau seberang yakni Pulau Pagerungan Besar. Setiap pagi mereka berangkat ke sekolah secara bergerombol dengan menaiki sebuah perahu kecil bermesinkan diesel. Dan menjelang siang ketika mereka pulang, perahu yang mengangkut murid-murid SD tersebut tiba kembali disertai tawa riang suara mereka. Sedangkan kalau melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, setingkat SMA, maka mereka harus menyeberang ke Pulau Sapeken yang dapat ditempuh dua jam perjalanan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga pulau ini menggantungkan laut sebagai mata pencaharianya. Mayoritas warganya adalah Nelayan, sisanya pedagang dan guru. Sedangkan bercocok tanam hanya sebagai sampingan saja, ketika tidak melaut. Karena masih menggunakan cara-cara tradisional, maka para nelayan disini masih tergantung pada musim. Kalau angin sedang kencang dan ombaknya besar maka nelayan disini tidak melaut. Biasannya pada musim itu mereka lebih suka untuk memperbaiki jaring yang rusak maupun mengecat perahu yang mereka galang ditepian pantai. Sambil diiringi sayup-sayup suara radio mereka membersihkan perahu yang kayunya banyak ditempeli kerak karang laut maupun lumut. Mereka membersihkannya dengan senang hati mengisi kekosongan waktu ketika istirahat melaut.
Tidak seperti nelayan di Jawa yang sudah menggunakan perlengkapan radar pencari ikan dan perahu besar, nelayan disini masih menggunakan perlengkapan tradisonal. Mereka mengandalkan pancing dan jaring payang untuk menangkap ikan. Sehingga hasil tangkapannya pun untung-untungan. Kalau sedang mujur biasannya mendapat tangkapan banyak. Sebaliknya kalau buntung, seekor ikan pun tidak berhasil mereka tangkap. Perahu yang mereka gunakan pun masih tergolong perahu kecil yang hanya mampu memuat sepuluh orang. Dan sebagian lagi masih mengandalkan layar guna melaut, tanpa dilengkapi mesin. Ketika di tepi pantai mereka menggunakan dayung, dan ketika angin berhembus cukup baik, layar baru dikembangkan yang akan membawanya ke tengah laut. Sedangkan perahu Nelayan di Jawa mayoritas sudah menggunakan mesin lebih dari satu. Seperti model perahu Pursin yang mampu menampung awak lebih dari dua puluh orang. Bahkan perahu Pursin nelayan Pekalongan Jawa Tengah sudah dilengkapi dengan tiga buah mesin standar 200 PS mampu memuat tiga puluh nelayan lebih dengan muatan 40-an ton.
Ketika bulan purnama tiba, ssewaktu para nelayan tidak ada melaut, maka warga akan berkumpul didepan rumah. Mereka bergerombol sambil saling bercerita. Sedangkan anak-anak kecil bermain-main dihalaman rumah. Ada yang main kejar-kejaran maupun bermain gelang karet. Sementara itu ombak terus berdebur tiada hentinya, mengikis pasir yang kelihatan penuh gemerlapan. Di tengah-tengah laut, sinar rembulan terpantul membiaskan seberkas cahaya. Laut seolah-olah bermandikan cahaya. Perahu nelayan tertambat rapi, dipinggir dermaga kayu, terombang-ambing oleh gelombang pasang air laut. Pohon kelapa sepertinya menari-menari diterpa angin yang tidak terlalu kencang. Di sebuah rumah tampak suara-suara orang bercengkrama, sesekali terdengar suara tawa. Itulah salah satu rumah yang menjadi tempat berkumpul warga Pulau Pagerungan. Mereka menghabiskan malam-malam yang hanya diiringi deburan ombak pantai yang tak kenal lelah dan suara-suara serangga yang mengerik. Suasananya jauh dari kebisingan knalpot kendaraan dan lalu lalang hentakan langkah manusia yang mengadu nasib ditengah-tengah kerasnya kota metropolis.
Harapan bagi penduduk pulau Pagerungan ini adalah adanya perbaikan sarana dan prasarana yang memadai, seperti Transportasi maupun fasilitas-fasilitas umum. Baik fasilitas listrik, sarana pendidikan dan kesehatan maupun jalan. Apalagi panorama pulau ini masih alami, sehingga potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata sangat terbuka lebar. Hamparan pasir putihnya dengan terumbu karang yang tersebar diperairan adalah pesona yang tak terkira, keramah tamahan penduduknya menjadi salah satu daya tawar yang cukup menarik bagi para wisatawan. Belum lagi potensi perikanan yang ada dikawasan ini yang masih cukup besar, dan belum dikembangkan secara modern. Aset tersebut selayaknya dijaga kelestariannya. Mengingat banyak terumbu karang yang berada pulau-pulau disekitar kondisinya sudah sangat memperihatinkan. Pulau itu sepatutnya mendapat perhatian serius bagi pemerintah daerah setempat sebagai sebuah sorga yang terlupakan, sorga yang harus diselamatkan dan diberdayakan sehingga akan menjadi sorga sebenarnya.



1 komentar:
Ini admin nya orang mana?. temenku kerja di bali dari pulai Pagerungan. Hehe
Posting Komentar